Movie, Photography and Hobby

Indonesian Old Movie Lovers

Archive for the ‘Puisi’ Category

KERINDUAN

Posted by Toto Andromeda on June 16, 2009

Dibayang wajah seorang

terlintas rindu selintas waktu

akan dirimu

—————Di ujung senja aku merenda waktu

menunggu saat-saat yang dulu ,kala indah bersamamu

Perjalanan berantai yang telah habis

tanpa ada kata yang bisa menjelaskan

seorang diri …………………

aku…..dibayang dirimu

dalam waktu yang tak juga usai

Posted in Puisi | 1 Comment »

Kau Datang

Posted by Toto Andromeda on April 27, 2009

Lelah, capek dan lelah lagi
memory terbangkit ketika kau datang lagi
bukan, bukan datang secara fisik
kau datang disaat aku melupakan
tetang segalanya
tentangmu
aku capek, kenapa kau datang
ketika aku telah berhasil menghapusmu
dalam memory mimpiku
kau datang bertandang
dengan menawarkan aroma surgawi
aku benci sendiri
kau pun datang dalam mimpiku
akupun benci sendiri
aku benci untukmu
jangan kau datang lagi

Posted in Puisi | Tagged: | Leave a Comment »

MALAM PANJANG

Posted by Toto Andromeda on April 24, 2009

file7406Kulalui malam dengan panjang

panjang sekali seolah tak mau cepat berlalu

malam panjangku terpesona oleh sebuah khayalan

bayangan akan bayang-bayang sebuah kenangan yang terwujud

Ketika ku lalui satu demi satu baris-baris malam yang tak juga usai

bayangan itu tak pernah padam

Jakarta dengan hidupnya yang gemerlap

Jakarta dengan kejahatannya yang tak pernah redup

Jakarta dengan kemiskinan yang tak pernah sinkron dengan kekayaan

malamku kian panjang….

ketika harus menunggu suara diseberang yang tak lagi pernah hadir

meski hanya sesekali, tapi malamku memang panjang…

sepagi ini mataku tak terpejam……

menunggunya….mengharapkannya…..merindukannya…….

ah malamku kian panjang

dimana engaku sekarang…..

Posted in Puisi | Tagged: , , , , , | Leave a Comment »

Puisi Tentang Cinta

Posted by Toto Andromeda on December 2, 2008

26042008942Sudah lama banget tidak posting coretan hati, ingin kembali rasanya kugoreskan lagi tulisan yang dulu pernah ku tulis, entah sudah diposting atau belum. Tapi kerinduan itu hadir, hadir untuk kembali menyapa dan dibaca. Walau hanya sepotong kata tiada arti, tapi bagiku saat itu jelas berarti. Memang sih bukan puisi yang berbobot seperti teman saya pernah baca, tapi setidaknya aku berusaha jujur pada diri sendiri khususnya.

Ada dua puisi tertulis pada tahun 2005an, memang sih seperti kisah klasik pada umumnya tentang cinta dan aroma cemburu.

KABAR

2005

Dibayang rembulan

Kuberjalan menyusuri lorong berdebu

Kukabarkan aku

__________ketika

kutatap sendu wajah rembulan

separuh ia menyapa

dalam redup hati dan jiwa

_____kutatap ia

kala helaan nafas menderu

menahan aroma cemburu

kutatap sedih lalu muka terbuang

rembulan kelam

menitik hujan setetes

disapu tangan penuh debu

diseberang suara seorang

memanja menyebut nama

ia tak sendirian

ditemani wajah tak terbayang

_______kabar

pudar dan memuai

ditelan panas kerontang bumi

yang membasah selama ini

dan setia menemani

kemana dia pergi

______kabar

diseberang suatu perlintasan

dia tak sendirian

aku kesepian

Entah apa yang menghinggapiku saat ini sehingga tertulis seperti tersebut diatas.

TENTANG CINTA

2005

arti cinta

kata tak bernada

cinta ada dimana-mana

cinta..

ketika cinta di pertanyakan

apa makna cinta sebenarnya

cintakupun entah kemana

jika cinta itu tumbuh maka datanglah kasih

namun jika cinta dipaksa

apalagi…..

hanya sekedar aroma nafsu belaka

yang menghunjam di relung hati..

lalu menyakiti kemudian pergi

kutepis cinta nafsu

kucari aroma rindu

dalam kasih dan jiwa sentuhmu

cinta.. ah cinta kugugat engkau

Sekedar catatan, judul awalnya sebenarnya Menggugat Cinta, tapi kurubah jadi Tentang Cinta, kenapa? ya karena tentang cinta.


Posted in Puisi | Tagged: , , , , , , | Leave a Comment »

Sebuah Renungan

Posted by Toto Andromeda on June 18, 2008


Oleh Taufiq Ismail

Kita hampir paripurna menjadi bangsa porak-poranda,
terbungkuk dibebani hutang dan merayap melata sengsara di dunia.
Penganggur 40 juta orang,
anak-anak tak bisa bersekolah 11 juta murid,
pecandu narkoba 6 juta anak muda,
pengungsi perang saudara 1 juta orang,
VCD koitus beredar 20 juta keping,
kriminalitas merebat disetiap tikungan jalan
dan beban hutang di bahu 1600 trilyun rupiahnya.

Pergelangan tangan dan kaki Indonesia diborgol
diruang tamu Kantor Pegadaian Jagat Raya,
dan dipunggung kita dicap sablon besar-besar:
Tahanan IMF dan Penunggak Bank Dunia.

Kita sudah jadi bangsa kuli dan babu,
menjual tenaga dengan upah paling murah sejagat raya.
Ketika TKW-TKI itu pergi
lihatlah mereka bersukacita antri penuh harapan dan angan-angan
di pelabuhan dan bandara,
ketika pulang lihat mereka berdukacita
karena majikan mungkir tidak membayar gaji,
banyak yang disiksa malah diperkosa
dan pada jam pertama mendarat di negeri sendiri diperas pula.

Negeri kita tidak merdeka lagi,
kita sudah jadi negeri jajahan kembali.
Selamat datang dalam zaman kolonialisme baru, saudaraku.

Dulu penjajah kita satu negara,
kini penjajah multi kolonialis banyak bangsa.
Mereka berdasi sutra,
ramah-tamah luar biasa dan banyak senyumnya.

Makin banyak kita meminjam uang,
makin gembira karena leher kita makin
mudah dipatahkannya.

Di negeri kita ini, prospek industri bagus sekali.
Berbagai format perindustrian, sangat menjanjikan,
begitu laporan penelitian.
Nomor satu paling wahid, sangat tinggi dalam evaluasi,
dari depannya penuh janji, adalah industri korupsi.

Apalagi di negeri kita lama sudah tidak jelas batas halal dan haram,
ibarat membentang benang hitam di hutan kelam jam satu malam.
Bergerak ke kiri ketabrak copet,
bergerak ke kanan kesenggol jambret,
jalan di depan dikuasai maling,
jalan di belakang penuh tukang peras,
yang di atas tukang tindas.

Untuk bisa bertahan berakal waras saja di Indonesia, sudah untung.

Lihatlah para maling itu kini mencuri secara berjamaah.
Mereka bersaf-saf berdiri rapat, teratur berdisiplin dan betapa khusyu’.
Begitu rapatnya mereka berdiri susah engkau menembusnya.
Begitu sistematiknya prosedurnya tak mungkin engkau menyabotnya.
Begitu khusyu’nya, engkau kira mereka beribadah.
Kemudian kita bertanya, mungkinkah ada maling yang istiqamah?

Lihatlah jumlah mereka, berpuluh tahun lamanya,
membentang dari depan sampai ke belakang,
melimpah dari atas sampai ke bawah,
tambah merambah panjang deretan saf jamaah.
Jamaah ini lintas agama, lintas suku dan lintas jenis kelamin.
Bagaimana melawan maling yang mencuri secara berjamaah?
Bagaimana menangkap maling
yang prosedur pencuriannya malah dilindungi dari atas sampai ke bawah?
Dan yang melindungi mereka, ternyata,
bagian juga dari yang pegang senjata dan yang memerintah.

Bagaimana ini?

Tangan kiri jamaah ini menandatangani disposisi MOU dan MUO (Mark Up
Operation),
tangan kanannya membuat yayasan beasiswa,
asrama yatim piatu dan sekolahan.
Kaki kiri jamaah ini mengais-ngais upeti ke sana kemari,
kaki kanannya bersedekah, pergi umrah dan naik haji.

Otak kirinya merancang prosentasi komisi dan pemotongan anggaran,
otak kanannya berzakat harta,
bertaubat nasuha
dan memohon ampunan Tuhan.

Bagaimana caranya melawan maling begini yang mencuri secara berjamaah?

Jamaahnya kukuh seperti diding keraton,
tak mempan dihantam gempa dan banjir bandang,
malahan mereka juru tafsir peraturan
dan merancang undang-undang,
penegak hukum sekaligus penggoyang hukum,
berfungsi bergantian.

Bagaimana caranya memroses hukum maling-maling yang jumlahnya ratusan ribu,
barangkali sekitar satu juta orang ini,
cukup jadi sebuah negara mini,
meliputi mereka yang pegang kendali perintah,
eksekutif, legislatif, yudikatif dan dunia bisnis,
yang pegang pestol dan
mengendalikan meriam,
yang berjas dan berdasi.
Bagaimana caranya?

Mau diperiksa dan diusut secara hukum?
Mau didudukkan di kursi tertuduh sidang pengadilan?
Mau didatangkan saksi-saksi yang bebas dari ancaman?
Hakim dan jaksa yang bersih dari penyuapan?

Percuma

Seratus tahun pengadilan, setiap hari 8 jam dijadwalkan
Insya Allah tak akan terselesaikan.
Jadi, saudaraku, bagaimana caranya?
Bagaimana caranya supaya mereka mau dibujuk, dibujuk, dibujuk agar bersedia
mengembalikan jarahan yang berpuluh tahun
dan turun-temurun sudah mereka kumpulkan.
Kita doakan Allah membuka hati mereka, terutama karena terbanyak dari mereka
orang yang shalat juga, orang yang berpuasa juga, orang yang berhaji juga.
Kita bujuk baik-baik dan kita doakan mereka.

Celakanya,
jika di antara jamaah maling itu ada keluarga kita,
ada hubungan darah atau teman sekolah,
maka kita cenderung tutup mata,
tak sampai hati menegurnya.

Celakanya,
bila di antara jamaah maling itu ada orang partai kita,
orang seagama atau sedaerah,
Kita cenderung menutup-nutupi fakta,
lalu dimakruh-makruhkan
dan diam-diam berharap
semoga kita mendapatkan cipratan harta tanpa ketahuan.

Maling-maling ini adalah kawanan anai-anai dan rayap sejati.
Dan lihat kini jendela dan pintu Rumah Indonesia dimakan rayap.
Kayu kosen, tiang,kasau, jeriau rumah Indonesia dimakan anai-anai.
Dinding dan langit-langit, lantai rumah Indonesia digerogoti rayap.
Tempat tidur dan lemari, meja kursi dan sofa, televisi rumah Indonesia
dijarah anai-anai.

Pagar pekarangan, bahkan fondasi dan atap rumah
Indonesia sudah mulai habis dikunyah-kunyah rayap.
Rumah Indonesia menunggu waktu, masa rubuhnya yang sempurna.

Aku berdiri di pekarangan, terpana menyaksikannya.
Tiba-tiba datang serombongan anak muda dari kampung sekitar.
“Ini dia rayapnya! Ini dia Anai-anainya! ” teriak mereka.
“Bukan. Saya bukan Rayap, bukan!” bantahku.
Mereka berteriak terus dan mendekatiku dengan sikap mengancam.

Aku melarikan diri kencang-kencang.
Mereka mengejarkan lebih kenjang lagi.
Mereka menangkapku.
“Ambil bensin!” teriak seseorang.
“Bakar Rayap,” teriak mereka bersama.
Bensin berserakan dituangkan ke kepala dan badanku.

Seseorang memantik korek api.
Aku dibakar.
Bau kawanan rayap hangus.
Membubung Ke udara.

Posted in Puisi | Tagged: | 1 Comment »

MY LITTLE ANGEL

Posted by Toto Andromeda on March 26, 2008

Kado untuk anakku…. Salwa Aurel F.

‘2006

Subhanallah….ajaib..

Tangismu ramaikan hampa nurani
Menepis kesepian diri
Dalam nada tak tersembunyi
Kuperhatikan kedip mata kecilmu
Lentik jemarimu dan kecil tapak kakimu
Bibir mungil dan hidungmu tak semancung aku
Bening mata dan tipis rambutmu
Halus kulitmu belum tersentuh aroma duniawi
Merah…
Ketika tangis memecah bagai delima merekah
Semerah itulah kamu…

Sehari, seminggu dan sebulan..
Matamu mulai bergerak
Tanganmu mulai terangkat
Tapi
Kau tumbuh tanpa kasih asi ibumu
Sepercik kau cicip tapi segelas kau muntahkan
Tapi aku tau ibumu berusaha untukmu
Dua bulan kau mulai mengangkat kaki dan memiringkan badan
Kau lucu
Seperti ayah dulu
Senyummu manis…
Dan hari-harimupun kini dimulai
Kau mulai mendengarkan, merespon tawa
Lucu ketika teriak kau…
Gemes menyusu pada jempol yang lentik
Lentik dan putih bayimu belum usai
Dan kau harus ikuti perjalanan ini

Salwa…
Hadiah dari surgawi
Semanis kata dan semanis senyummu
Lekas besar yah
Dan jaga ibumu..
Jadilah bidadari kecil yang manis
Penyejuk hidup keluarga

Posted in Puisi | 4 Comments »

LELAH

Posted by Toto Andromeda on November 14, 2006

Sudah lama banget gak update blog, yah ingin kembali aku tuangkan isi hati ini. Ini aku tulis kala itu ketika susah untuk tidur banyak sekali pkiran menerawang tak tentu arah,
Salam bagi sahabat semua

LELAH(MENUNGGU MATI)
September 2004

Aku lelah
Memandangi langit-langit kamar
Aku belum mencium bau kematianku
Dalam detak jantung
Dan aroma nafas lesu serta senyap di awal pagi
Telena oleh mantra-mantra setan
Dan sandiwara hidup yang belum usai
Lelahku mengajak berbaring
Sambil kembali menerawang langit-langit
Yang telah bosan di perhatikan

Kematianku belum juga datang
Seolah enggan menyapa
Apalagi sekedar bertandang dalam redup mata dan lelah jiwa
Atau ini hanya sinetron malam
Yang menghabiskan satu episode cerita
Dalam wacana yang tak jelas
Dan episode itu tak cepat berakhir
Detik menuju menit kemudian jam
Tapi sinetron menjelang kematian belum juga berakhir
Embusan angin menandakan pagi

Dan senyap awal pagi masih menyelimuti tapi episode satu cerita belum juga usai

Jiwaku lelah, tubuhku resah
Menunggu kematian di awal pagi ini
Yang belum menghampiri

Posted in Puisi | Leave a Comment »

aku lelaki

Posted by Toto Andromeda on April 18, 2006

Aku……
lelaki terbaring damai
senyum lembut tersungging hadirkan wajahnya
desah nafas
lelaki dengan penuh angan
menerawang langit-langit kamar
terdampar di ranjang keemasan

Aku……
lelaki tersenyum kecut
desah masyuk dan aroma berahi
tercium dari aku
lelaki dengan penuh rindu

aku….
diriku….
lelaki menahan rindu
dalam angan-angan yang tak pasti

aku…
lelaki perindu

aku…
anganku…
kerinduanku
tak terbalas rindu…

aku merindukanmu………………

Posted in Puisi | 1 Comment »

MEMORY

Posted by Toto Andromeda on April 12, 2006

malam baru beranjak, hari belom lepas setengah
mata ini susah untuk terpejam
ada perasaan yang susah untuk aku tuangkan
sekalipun………
itu hanya lewat tetes-tetes tinta hitam
_____dan
dalam selembar kertas usang yang mengharap sentuhanku

kubuka……
lembar-lembar terakhir
saat-saat indah
kala itu…..
………suatu masa yang tak mungkin terulang
walau hanya sekejap

…….entahlah…….

kadang
masa-masa indah itu begitu mengusik
membawaku
keangan tak tentu arah

lalu…..
ketika kembali
kutelusuri jalan-jalan penuh memory
rasa itu hilang
ditelan jaman
yang tak pernah ramah menyapa
…….apalagi…….
hanya bertandang …….
mengungkap makna

…….sudahlah
smua t’lah berlalu
hanya kenangan yang meng-angan
tersisa…..
tanpa satu jawaban

kadang…
terlalu berat untuk melupakan
masa-masa indah
bersama diriku, temanku dan keluargaku
yang kala itu bersamaku

ah….
semua masa lalu
hanya memory!
oh, memory!
haruskah diriku kembali kemasa itu!
memory

————rumput kering 2005

Posted in Puisi | Leave a Comment »

bertemu matahari

Posted by Toto Andromeda on April 11, 2006

Sebelum terlelap
Kutorehkan asa pada suatu ketika
Esok masih ada
Untuk merajut kembali benang kusut
Dan menjahit kembali kain rombeng
Dari dosa dalam sujudku
Esok kan menanti
Untuk bertemu matahari

Posted in Puisi | Leave a Comment »