Author Archive
Posted by jejakandromeda on December 9, 2009

JUDUL FILM : NERAKA PEREMPUAN
SUTRADARA : CHARLESS ANAKOTTA
PRODUSER : YAN U KALILUHU
PRODUKSI : YANUK FILM
TAHUN PROD : 1974
JENIS : FILM DRAMA
PEMAIN : DICKY ZULKARNAEN, TATIK TITO, RUTH PELUPESSY, JEFRY SANI, ULLY ARTHA, TORRO MARGENS, YATI KUSUMAH, IVAN SANUSI, NUNGKI PUSPONEGORO
SINOPSIS :
Film dibuka dengan Rizal (Ivan Sanusi) yang di ejek oleh teman-temannya karena di anggap anak haram yang tidak mempunyai anak. Mendengar anaknya di ejek Katyana (Tatiek Tito) Ibunya yang sedang mencuci di kali pun akhirnya mengusir anak-anak yang sedang menghina anaknya. Namun ketika sedang mengusir anak-anak, Katyana jatuh dan akhirnya meninggal. Sebelum meninggal Katyana menyuruh Rizal untuk mencari orang yang memiliki kalung yang diberikan pada Rizal, dari kalung tersebutlah Rizal berhak memanggilnya ayah. Setelah ditinggal mati oleh Ibunya, Rizal pun pergi dari desa, namun karena kelaparan akhirnya ia tidak kuat lagi jalan. Akhirnya Rizal ditolong oleh Rony (Jefri Sani) yang sebenarnya pamannya sendiri dan disuruh tinggal bersamanya dan anaknya Riana (Nungki Pusponegoro).
Rizal adalah anak buah cinta dari Katyana dan Richard (Dicky Zulkarnaen) namun karena Richard kepergok sedang bercintaan dengan Nina (Ruth Pelupessy) calon kakak ipar Katyana, akhirnya Katyana yang tengah hamil buah cinta Richard akhirnya menolak Richard dan bersedia di nikahi oleh temannya sendiri seorang pemuda yang mencintai Katyana. Katyana telah memberikan keputusan, dan Richard tidak terima atas perlakuan tersebut. Hingga akhirnya Richard berjanji akan menghancurkan seluruh perempuan yang secantik Katyana.
*****
Rizal dan Riana yang hidup ditampung di rumah Rony kini sudah besar . Rizal (Torro Margens) dan Riana (Ully Artha) akhirnya sama-sama menyayangi . Akhirnya Roni menyetujui hubungan Rizal dan Riana namun tidak dengan Nina istrinya. Nina tidak mau Rizal yang anak gembel menjadi pacar Riana. Apalagi setelah diketahui kalau Rizal adalah anak dari Katyana. Semakin marahlah Nina yang memang tidak suka sama Katyana. Sementara Roni dianggap tidak berhak ikut mendidik Riana karena Riana bukan anak dari Roni akan tetapi buah perselingkuhan dengan Richard. Roni yang sudah lumpuh sejak 7 tahun silam akibat tabrakan tidak bisa berbuat apa-apa. Sementara itu Rizal dan Riana yang sedang berlibur di pantai merasakan firasat yang tidak baik. Akan ada badai yang melanda hubungan mereka.
Sementara itu pada suatu kesempatan Nina bertemu kembali dengan Richard. Namun kali ini Nina berniat jahat terhadap Richard. Ia berniat menghancurkan Richard dan anaknya sendiri Riana. Richard sendiri tidak mengenali siapa Nina sebenarnya, sehingga ketika diajak kerjasama Richard dan Nina yang sebenarnya satu komplotoan mafia pun menyetujuinya.
****
Rizal dan Riana akhirnya menikah di kantor catatan sipil. Namun keduanya berjanji sebelum mendapat restu dari Nina Ibu dari Riana mereka berdua tidak akan melakukan hubungan suami istri. Pernikahan Rizal dan Riana di ketahui oleh Nina. Nina marah dan tidak mengakui Riana sebagai anaknya. Nina bahkan akan membeberkan siapa Riana sebenarnya dengan syarat datang esok harinya seorang diri pada pukul 21.00 di rumah. Mengetahui niat Riana yang akan mendatangi Ibunya, Rizal menyetujuinya. Riana akhirnya pulang kerumah dan mendapati Ibunya terikat dan ayahnya yang tidak sadarkan diri.
Ternyata ini adalah tipu muslihat Nina yang ingin menjebak Riana. Riana akhirnya di culik dan diserahkan pada Richard untuk menghancurkan kegadisannya. Padahal Richard sendiri adalah ayah kandungnya namun belum mengetahuinya. Ketika Riana akan disiksa oleh Richard, Riana memohon padanya agar tidak menyakiti karena ia memiliki seorang suami. Akhirnya Richard pun luluh dan memohon pada Riana untuk berhati-hati pada Ibunya, karena dialah yang tega menjual anaknya pada Riana. Akhirnya Riana diantar Richard ke rumah. Ditengah perjalanan Riana dan Richard bertemu dengan Rizal. Mengetahui Riana bersama Richard, Rizal marah besar dan menanggap Riana telah melakukan hal-hal yang tidak senonoh.
Sesampai di rumah, Riana mendapati ayahnya, Roni sedang sekarat. Terpaksa Roni menceritakan siapa Riana sebenarnya sebelum meninggal. Sedangkan Rizal akhirnya berbaikan dengan Richard setelah mengetahui kalau Richard adalah ayahnya. Kemudian Richard bersama Rizal pergi bersama kerumah Riana dan tidak mendapati Riana disana. Diketahui Riana pergi ke puncak pas untuk bunuh diri. Akhirnya Richard dan Rizal pergi menyusul Riana dengan mobil yang berbeda. Dalam kejar mengejar Riana akhirnya tewas setelah Rizal menabrak mobilnya. Rizal menyesal. Dalam pangkuannya sambil menyetir Rizal bunuh diri dengan menabrakkan mobilnya ke jurang. Sementara Richard yang mengejar mobil Rizal terlambat datang. Karena mobil Rizal yang dikendarai bersama mayat Riana telah terjatu ke jurang dan terbakar secara berkeping-keping. Richard akhirnya ditangkap oleh polisi yang sudah membuntutinya dari sejak naik kepuncak.
Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: Charless Anakotta, Dicky Zulkarnaen, Film Indonesia, Film Jadul, Galeri Film Indonesia, Resensi Film Indonesia, Resensi Film Jadul, Ruth Pelupessy, Torro Margens, Ully Artha, Yan U Kaliluhu, Yanuk Film | Leave a Comment »
Posted by jejakandromeda on December 3, 2009

Ryan Hidayat - Si Roy
JUDUL FILM : SI ROY
SUTRADARA : ACHIEL NASRUN
PRODUSER : RAMESH KS, MADHU S MATHANI
PRODUKSI : ANDALAS KENCANA FILM
TAHUN PROD : 1989
JENIS : FILM REMAJA
PEMAIN : RYAN HIDAYAT, MARGIE DAYANA, MONICA GUNAWAN, ADE GIULIANO, YUNITA YUNIANI, JAMES SAHERTIAN, AGUS ZULKARNAEN
SINOPSIS :
Roy (Ryan Hidayat) adalah ketua senat yang penuh dengan dedikasi. Pada suatu kesempatan, untuk mengurangi jurang antara si kaya dan simiskin dikampusnya, Roy dan kawan-kawan melakukan kegiatan kemah. Sebagai ketua senat, Roy mengkoordinasikan dengan teman-teman tentang keberangkatannya. Salah satu pesertanya adalah mahasiswi Novi (Margie Dayana) yang merupakan anak orang kaya yang sudah terbiasa hidup enak. Novi menarik perhatian sendiri bagi Roy. Hingga di suatu malam didalam perkemahan Roy bercerita pada Tiwi (Monica Gunawan) tentang perasaannya pada Novi. Roy tidak tahu kalau Tiwi sebenarnya diam-diam juga mencintai Roy namun selalu dipendamnya.
Pada setiap kesempatan, Novi yang sudah menarik perhatian Roy selalu dicari jika tidak ada. Suatu hari, rombongan kemah pergi kesebuah kawah. Novi yang tidak terbiasa jalan jauh akhirnya berpisah dengan rombongan bersama Iwan (Ade Giuliano). Mengetahui salah satu anggotanya tidak dalam rombongan, akhirnya Roy mencari keberadaan Novi dan Iwan. Ketika menemukan Novi, Roy dan kawan-kawan pun kaget karena Novi jatuh kejurang dan diselamatkan oleh Roy. Roy yang memang sudah menaruh hati pada Novi akhirnya mengungkapkan perasaannya di kebun binatang Ragunan. Atas dasar balas budi, akhirnya Novi menerima Roy meski dengan setengah hati. Sementara itu, mengetahui Novi jadian sama Roy, temen-temen Novi menertawakannya demikian juga teman-teman Roy juga tidak setuju jika Roy jadian sama Novi yang terkenal matre dan Roy yang terkenal miskin, namun dasar cinta, Roy tidak menghiraukannya.
Akhirnya Novi selingkuh dengan Iwan. Namun perbuatannya diketahui Roy ketika mau mengantarkan surat dari ayahnya yang setelah diketahui sebenarnya adalah atasan dari ayah Novi. Novi pun selalu menghindar dari Roy karena sebenarnya Novi tidak suka pada Roy karena menganggap Roy bukan orang kaya dan tidak akan bisa mengajak ketempat-tempat yang biasa dikunjungi Novi. Mengetahui Novi dan Iwan ada hubungan akhirnya Roy dan Iwan berkelahi. Sementara itu Tiwi yang cintanya bertepuk sebelah tangan akhirnya pergi keluar negeri dan menitipkan kaset untuk Roy dengarkan. Setelah mendengarkan kaset, akhirnya Roy tahu kalau Tiwi suka padanya namun sayang sekali sekarang sudah berada diluar negeri.
Sementara itu mengetahui hubungan Roy dan Novi tidak terlalu bagus dan menganggap rendah Roy, Suli, temen Novi mendekati Roy. Namun kedekatan Suli dan Roy diketahui oleh Linda yang segera memberitahukan pada Novi. Suli dan Roy sering jalan berdua. Ketika sedang berada di café, Roy teringat dengan Tiwi yang suka akan lagu yang sedang di lantunkan oleh penyanyi café tersebut. Tentu saja hal ini tidak disukai oleh Suli. Apalagi ketika Roy curhat tentang Tiwi yang dianggapnya sahabat yang paling baik. Suli pun berniat mengungkapkan perasaanya pada Roy, tapi akhirnya di urungkan ketika Roy malah menanyakan Novi.
Melihat kedekatan Suli dan Roy apalagi sering jalan berdua, akhirnya membuat Novi cemburu. Novi melabrak Suli untuk tidak dekat-dekat dengan Roy. Namun Suli juga tidak mau kalah karena Novi dianggap sudah putus hubungan dengan Roy dan lebih menyukai Iwan.
***
Iwan yang masih menaruh dendam pada Roy akhirnya berhasil membalaskan dendamnya pada Roy. Namun perbuatan Iwan diketahui Novi, dan segera menolong Roy. Novi akhirnya tahu siapa Roy. Roy adalah anak dari atasan papa Novi. Diakhir kisah Novi dan Roy balikan lagi menjadi kekasih.
Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: Achiel Nasrun, Andalas Kencana Film, Film 90an, Film Indonesia, Film Jadul, Galeri Film Indonesia, Resensi Film Indonesia, Resensi Film Jadul, Ryan Hydayat, Si Roy | 1 Comment »
Posted by jejakandromeda on December 2, 2009
Meski berhadiah besar dengan total hadiah USD 500.000, namun Final Super Series 2009 yang berlangsung di Stadion tertutup Bandaraya Johor bahru Malaysia berlangsung sepi, aliah para pemain-pemain bintang tidak turut ambil bagian di turnamen tutup tahun ini. Final super series yang menggunakan sistem round robin hanya akan mengundang 8 wakil di masing-masing nomor dengan peringkat super series yang telah ditentukan. Dibandingkan dengan final super series tahun lalu, final super series tahun ini sepi dari para pemain-pemain top dunia. Hanya tuan rumah Malaysia saja yang menjamu tamunya dengan wakil-wakilnya yang memang sedang naik daun seperti di nomor tunggal putra ada Lee Chong Wei, Ganda putri Wong Pei Tty/Eei Hui Chin yang masih peringkat satu dunia, juga ganda putra Koo Kien Kit/Tan Boon Heong.
China yang selalu merajai di setiap turnamen, kali ini juga hanya mengirimkan dua wakilnya di nomor tunggal putra melalui Bao Chun Lai dan di nomor ganda putra Chen Xu/Zhendong Guo. Sedangkan pemain top dunia Lin Dan tidak turut ambil bagian dinomor ini. Di nomor tunggal dan ganda putri yang selalu merajai, China juga tidak mengirimkan satu wakilnyapun di final super series. Sementara itu pasangan ganda campuran China juga turut absen.
Indonesia sendiri hanya menurunkan wakilnya di nomor tunggal putra melalui Taufik Hidayat, ganda campuran Hendra A Gunawan/Vita Marissa, dan ganda putra melalui Alvent Yulianto/Hendra A Gunawan dan Rian Sukmawan/Yonathan Suryatama Dasuki. Sementara itu pemain-pemain pelatnas tidak ambil bagian untuk persiapan SEA GAMES di Laos pekan mendatang. Sementar itu tunggal putra Taufik Hidayat sudah mengalami kekalahan pertama dari Bao CHun Lai (CHN) . Taufik berada satu grup dengan Lee Chong Wei (MAS) , Bao Chun Lai (CHN) Yu Hsieh Hsing (TPE). Agaknya Taufik akan kesulitan untuk dapat lolos untuk jadi juara group ataupun runner up mengingat sudah mengalami satu kekalahan. Untuk dapat lolos Taufik harus dapat mengalahkan Lee Chong Wei dan Yu Hsieh Hsing.
Daftar selengkapnya dari para pemain yang turut ambil bagian :
TUNGGAL PUTRA :
1. Lee Chong Wei (MAS)
2. Peter Heog Gade (DEN)
3. Bao Chun Lai (CHN)
4. Taufik Hidayat (INA)
5. Park Sung Hwan (KOR)
6. Bonsaak Ponsana (THA)
7. Jan O Jorgensen (DEN)
8. Yu Hsieh Hsing (TPE)
TUNGGAL PUTRI :
1. Saina Nehwal (IND)
2. Salakjit Ponsana (THA)
3. Juliane Schenk (GER)
4. Wong Mew Chow (MAS)
5. Nicole Grether (GER)
6. Carmain Rein (CAN)
7. Yao Jie (NED)
8. Porntip Buranaprasertsuk (THA)
Ganda Putra :
1. Koo Kien Kit /Tan Boon Heong (MAS)
2. Cartsen Mogensen/Mathias Boe (DEN)
3. Anthony Clark/Nathan Robertson (ENG)
4. Alvent Yulianto/Hendra A Gunawan (INA)
5. Mohd Zakry Abdul Latief/Mohd Fairuzizuan Mohd Tazari(MAS)
6. Zhendong Guo/CHen XU (CHN)
7. RIan Sukmawan/Yonathan Suryatama Dasuki (INA)
8. Jung Jae Sung/Lee Yong Dae
Ganda Putri :
1. Wong Pei Tty/Eei Hui Chin (MAS)
2. Chen Wen Hsing/Chien Yu Chin (TPE)
3. Kamilla Ritter Juh/Lena Frier Kristiansen (DEN)
4. Carmain Reid (CAN)/Nicole Grether (GER)
5. Duang Anong/Kuncala Voravicitchaikul (THA)
6. Laura CHoinet/Wenny Rahmawati (FRA)
7. Gabrielle White/Jenny Wallwork (ENG)
8. Chou Chia Chi / Yang Li Ying (TPE)
Ganda Campuran :
1. Joachim Fischer Nielsen/Christina Pederson (DEN)
2. Shongphon Anugritayawon/Kuncala Voravicitchaikul (THA)
3. Diju V/Jwala Gutta (IND)
4. Hendra A Gunawan/Vita Marissa (INA)
5. Sudket Prapkamol/Saralee Thoungthongkam (THA)
6. Anthony Clark/Donna Kellog (ENG)
7. Sung Hyun Ko/Jung Eun Ha (KOR)
8. Robert Meteusiak/Nadiezda Kostiusky (POL)
Posted in Bulutangkis | Tagged: Alvent Yulianto, Badminton, Bulutangkis, Final Super Series 2009, Hendra A Gunawan, Lee Chong Wei, Lin Dan, Taufik Hidayat, Vita Marissa | Leave a Comment »
Posted by jejakandromeda on December 1, 2009

Enny Beatrice & Mustafa Kamal
JUDUL FILM : PERTARUNGAN DI GOA SILUMAN
SUTRADARA : IMAM PUTRA PILIANG
PRODUSER : GORDHAN PS
PRODUKSI : PT. JAKARTA PRIMA METROPOLITAN FILM
TAHUN PROD : 1989
JENIS : FILM LAGA
PEMAIN : ENNY BEATRICE, MUSTAFA KAMAL, PIET PAGAI, RUDY WAHAB, RACHMAT KARTOLO, ROBERT SANTOSA, NADIA KASIM
SINOPSIS :
Alang Surat (Mustafa Kamal) adalah pendekar yang baru saja turun gunung dan pergi mengembara untuk menegakkan keadilan. Ditengah perjalanan Alang Surat tertarik dengan suara seorang perempuan yang sedang membaca ayat suci Al Quran di sebuah Goa. Akhirnya Alang Surat sampailah di goa yang dimaksud dan bertemu dengan gadis yang sedang membaca ayat suci Al Quran tersebut. Akhirnya diketahui kalau gadis tersebut bernama Suharna (Enny Beatrice) anak dari Alimin (Robert Santosa). Kedatangan Alang Surat tidak disukai oleh Alimin akhirnya keduanya pun berkelahi dan dilerai oleh Suharna. Suharna yang juga tidak suka dengan watak ayahnya akhirnya pun ikut lari menghindari Alimin bersama dengan Alang Surat.
Dalam pelariannya Alang Surat dan Suharna bertemu dengan Diana(Nadia Kasim). Akhirnya ketiganya pun bahu membahu menumpas kejahatan. Di dunia persilatan sedang gempar memperebutkan peti Pusaka Matasan yang berisi peta harta karun dan ilmu silat. Kisah perebutan peti Matasan berawal dari pemiliknya (Rahmat Kartolo) yang dibunuh oleh Alam Dian (Rudy Wahab), Alang Abang (Piet Pagau) dan Alimin (Robert Santosa). Karena tidak mendapat keberadaan Peti Matasan, maka akhirnya pemilik peti tersebut dibunuh. Istri dan 2 anaknya akhirnya di tawan dan dibawa pergi oleh ketiganya.
Alang Surat, Suharna dan Diana akhirnya ke markas Alang Abang dan Alam Diah untuk menumpas kejahatan mereka. Ketika berhasil membunuh Alam Diah, di dalam tempat persembunyiannya, Diana dan Alang Surat menemukan seorang wanita yang terikat dan ditawan. Setelah membebaskan wanita tersebut, akhirnya Diana pun kaget. Karena ternyata Diana adalah anak dari wanita tersebut yang juga merupakan istri dari pemilik sah peti Matasan. Diana dikenali sebagai anaknya dari tanda yang ada di lengannya.
Kemudian secara bersama-sama mereka pun mencari Suharna yang terpisah dari Diana dan Alang Surat. Ketika bertemu dengan Suharna, Alang Surat membuka lengan Suharna yang ternyata juga ada tanda lahirnya. Akhirnya Ibu dan kedua anaknya pun bertemu. Namun belum lagi rasa kaget Suharna usai, tiba-tiba muncullah siluman ular Alang Abang yang ingin membunuh mereka. Tapi Alang Surat lebih sigap dan akhirnya Alang Abang berhasil dibunuhnya.
Diakhir kisah, Peti Pusaka Matasan pun akhirnya ditemukan, dan setelah dibuka ternyata di peti terdapat tiga buah benda yang terdiri dari Peta harta Karun yang akhirnya dipegang Diana, Kitab Ilmu Silat yang diberikan pada Suharna dan terakhir adalah Kitab Suci Alquran yang dipegang oleh Alang Surat. Akhirnya merekapun berpisah, namun sebelum berpisah, Suharna yang jatuh hati pada Alang Surat akhirnya mengikutinya untuk pergi bersama.
****
Ceritanya memang tergolong biasa-biasa saja, akan tetapi setting dimana suting dilakukan kalau gak salah di sudut keraton lama Yogyakarta, turut memperindah film ini. Kita akan dibawa untuk menelusuri jejak sejarah dimana masih ada keraton dengan lorong-lorongnya yang konon saat pembangunan tidak menggunakan semen, akan tetapi hanya menggunakan pasir dan semen merah dari batu bata saja.
Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: Enny Beatrice, Film Indonesia, Film Jadul, Galeri Film Indonesia, Mustafa Kamal, Pertarungan Di Goa Siluman, PIET PAGAU, PT. JAKARTA PRIMA METROPOLITAN FILM, RACHMAT KARTOLO | Leave a Comment »
Posted by jejakandromeda on November 29, 2009
Rupiah dan rupiah lagi. Biasanya rupiah itu dibuat tidak berkutik dengan nilai tukar lain seperti Dollar Amerika. Sementara itu nilai tukar rupiah sendiri di negeri ini mulai merendah harga 1000 rupiah untuk 3 tahun yang lalu, tentu berbeda dengan Rp. 1000 tahun ini, begitu seterusnya. Hukum ekonomi akan terus berlaku.
Ini sih tentang seberapa berharganya rupiah di negeri sendiri, dan bagaimana kita menghargai nilai rupiah yang kita punya. Terakhir kali Bank Indonesia mengeluarkan pecahan Rp. 2.000 menjelang lebaran. Keluarnya pecahan dua ribu rupiah menyebabkan makin terpuruknya nilai tukar rupiah. Terpuruk dalam arti nilai yang kita punya sudah tidak seberharga dulu. Lahirnya Rp. 2000 mengikis pula dengan hadirnya nilai-nilai rupiah kecil seperti koin Rp. 50, 100, maupun Rp. 500. Bahkan nilai-nilai kecil tersebut di bank tertentu kadang di tolak jika ingin menyetornya (fakta dari beberapa keluhan suara pembaca diharian Ibu Kota).
Hal ini di perparah pula dengan sudah bergantinya nilai tukar rupiah pecahan Rp. 50, 100, maupun Rp. 200 yang kini berganti fungsi menjadi permen. Yah permen, tapi perlu di ingat bahwa tidak semua orang suka dengan permen. Dan parahnya lagi, permen itu tidak bisa dijadikan alat tukar yang sah untuk transaksi pembelian.
Ya tidak bisa di pungkiri jika kita pergi berbelanja ke mini market ataupun supermarket, kita menjadi semacam ‘dipaksa’ untuk menerima kembalian permen. Dengan dalih tidak ada uang kecil maka pecahan nilai tukar rupiah kecil pun berubah jadi permen yang sering kali tidak kita makan sama sekali alias di buang. Artinya rupiah kita sudah tidak dihargai lagi di negeri sendiri. Dari beberapa pengalaman yang pernah penulis alami, seringkali minimarket yang kini menjamur hampir di pelosok perumahan selalu mengembalikan kembalian uang kecil dalam bentuk permen. Ini menjadi semacam pemerasan terselubung yang dilakukan, walau memang kalau di telusuri pasti mereka juga tidak mau disalahkan karena tidak adanya nilai kecil. Bayangkan saja jika nilai tukar di bawah Rp. 500 semisal kembalian Rp. 265 yang seharusnya di kembalikan dalam bentuk rupiah akan berubah fungsi menjadi dua buah permen. Nah yang Rp. 65 kemana? mending kalau permennya kita makan? nah kalau enggak? Tapi kalau kita bertransaksi misalnya Rp. 95.115, pasti akan terjadi pembulatan menjadi Rp. 95.200 dan yang kembalian Rp. 300 akan di berikan dalam bentuk permen. Nah ini gimana? ini memang pemerasan terselubung karena mau tidak mau kita akan menerima permen, alias mereka sebenarnya menjual permen, hanya saja tidak masuk dalam struk.
Bukan persoalan permen atau nilai yang tidak seberapa, akan tetapi ini menjadi menyebalkan karena permen bukanlah nilai tukar yang sah di Indonesia ini. Memang harus diakui tidak semua minimarket mengembalikan dalam bentuk permen, akan tetapi hampir sebagian besar melakukan praktek tersebut. Lantas dimana keadilan buat konsumen? apabila sewaktu-waktu kita membayarnya dalam bentuk permen dari kembalian minimarket ataupun supermarket tersebut akankah diterima? ini seharusnya menjadi PR bagi YLKI untuk melindungi konsumen-konsumen kita.
Namun satu acungan jempol saya berikan untuk ‘Indomaret’ karena dengan cerdas bekerjasama dengan Bank Mandiri telah mengeluarkan Indomaret card dimana buat penulis pribadi sangat bermanfaat karena tidak perlu di pusingkan dengan kembalian permen. Dan tentu saja nilai rupiah yang kita keluarkan sesuai dengan struk yang ada. Memang kita harus deposit dulu dengan sejumlah uang untuk transaksi, akan tetapi fair dan adil karena jumlah yang kita keluarkan toh sesuai dengan nilai struk yang ada. Dan untuk minimarket-minimarket lain semoga saja menyusul, karena buat apa punya member yang harus di perpanjang jika kembalian kita juga tetap saja ditukar dengan permen.
Semoga saja kedepannya nilai rupiah kita akan lebih di hargain lebih oleh bangsanya sendiri, atau solusi cerdas adalah berbelanjalah ke warung-warung terdekat.
Posted in Umum | Tagged: Alfamart, Indomaret, Rupiah, kembalian dengan permen, minimarket, supermarket | Leave a Comment »
Posted by jejakandromeda on November 20, 2009
Layaknya bermain di kandang macan, pemain-pemain Indonesia yang turut serta dalam ajang tutup tahun China Super Series 2009 mulai berguguran. China sebagai tuan rumah merajai di semua nomor, Sementara Indonesia yang mewakilkan di 4 nomor yakni tunggal putra dan putri, ganda campuran dan ganda putra praktis tidak dapat berbicara banyak. Apalagi saingannya cukup ketat. Hadirnya pemain-pemain Korea selatan juga menjadikan persaingan di semua nomor semakin ketat.
Di nomor ganda putra, Indonesia yang mengirimkan wakilnya secara penuh, kini tidak menyisakan satupun wakilnya di nomor tersebut. Markis Kido/Hendra Setiawan di babak kedua yang berlangsung kemarin juga di buat tidak berdaya setelah berhadapan dengan pemain non unggulan Chieh Min Fang/Sheng Mu Lee (TPE) dengan melalui pertandingan 3 set. Markis/Hendra menyerah dengan 19-21, 21-11 dan 15-21. Kegagalan serupa juga di raih Yonathan Suryatama Dasuki/Rian Sukmawan yang harus bertekuk lutut atas Zhendong Guo/Chen Xu (CHN) dengan dua set langsung 17-21 dan 19-21. Sementara itu pemain muda yang sempat melejit M. Ahsan/Bona Septono juga harus menyerah dari Hong Ling Chen/Yu Lang Lin (TPE) dengan 15-21 dan 18-21. Dengan demikian Indonesia tidak satupun mewakilkan wakilnya di nomor ganda putra.
Di nomor tunggal putri, nasib serupa juga di alami satu-satunya wakil Indonesia yang melangkah ke babak kedua Maria Kristin Yulianti. Maria menjadi satu-satunya wakil Indonesia di babak kedua setelah rekannya Adriyanti Firdasari kandas di babak pertama. Maria di taklukkan oleh pemain tuan rumah Wang Shixian dengan 13-21 dan 13-21. Kegagalan Maria sekaligus melengkapi kegagalan pekan sebelumnya di Hongkong Super Series atas Salakjit Ponsana (THA). Maria Kristin jarang di turunkan di Super Series karena terlilit cedera. Sampai Saat ini tunggal putri Indonesia masih belum bisa berbicara banyak.
Namun kegagalan dua nomor tersebut sedikit terobati setelah dua wakil tunggal putra Indonesia yakni Sony Dwi Kuncoro dan Simon Santoso melangkah ke perempat final. Namun di perempat final, keduanya sudah harus bertemu pemain tuan rumah unggulan kedua dan ke empat. Sony Dwi Kuncoro akan ditantang oleh Chen Jin dan Simon Santoso akan berhadapan dengan Lin Dan. Di babak kedua Sony Dwi Kuncoro menang atas Arvind Bhat (IND) dengan dua set langsung dengan 21-15 dan 21-16. Sementara itu Simon Santoso melangkah ke perempat final dengan bersusah payah setelah mengalahkan Carl Baxter (ENG) dengan 14-21, 21-12 dan 21-18.
Indonesia juga masih menyisakan satu wakilnya di perempat final nomor ganda campuran dengan pemain yang baru di pasangkan Devin Lahardi Fitriawan/Lilyana Natsir. Devin Sebelumnya berpasangan dengan Lita Nurlita sedangnan Lilyana Natsir berpasangan dengan Nova Widianto. Lawan Devin/Lilyana di perempat final adalah pasangan tuan rumah Nan Zhang/Zhao Yunlei.
Posted in Bulutangkis | Tagged: Alvent Yulianto, Badminton, BWF, China Super Series 2009, Devin Lahardi Fitriawan/Lilyana Natsir, Hasil pertandingan Bulutangkis, Hendra Setiawan, Lilyana Natsir, Maria Kristin, Maria Kristin Yulianti, Markis Kido/Hendra Setiawan, Nova Widianto/Lilyana Natsir, PBSI, Simon Santoso, Sony Dwi Kuncoro | 2 Comments »
Posted by jejakandromeda on November 16, 2009
Satu-satunya wakil Indonesia di final turnamen Yonex Hongkong Super Series 2009 pasangan ganda campuran Nova Widianto/Lilyana Natsir gagal meraih gelar setelah di taklukkan pemain non unggulan yang sedang naik daun Robert Meteusiak/Nadiezda Costiuczky (POL) dengan dua set langsung. Meski sempat unggul di set pertama dengan 10-7, namun pasangan Polandia mampu mengejar ketertinggalan hingga menyamakan kedudukan 10-10 dan berbalik unggul menjadi 10-11. Namun Nova/Lilyana yang sebentar lagi mau di ceraikan pasangannya mampu mengejar ketertinggalan dan berbalik unggul kembali dengan 18-15 bahkan terlebih dahulu unggul 20-18. Namun pasangan Polandia tidak mau menyerah begitu saja dan mampu mengejar ketertinggalan hingga unggul 20-22 sekaligus memenangi set pertama.
Memasuki set kedua, kedudukan Nova/Lilyana sangat tidak menguntungkan karena bermain dibawah tekanan, dan akhirnya Nova/Lilyana harus puas menjadi runner up Hongkong Super Series 2009 dengan 16-21.
Hasil selengkapnya :
1. WS : Wang Yihan (CHN) beat Jiang Yanjiao (CHN) 21-13, 21-15
2. XD : Robert Mateusiak/Nadiezda Kostiuczky (POL) beat Nova Widianto/Lilyana Natsir (INA) 22-20, 21-16
3. MS : Lee Chong Wei (MAS) beat Peter Heog Gade (DEN) 21-13, 13-21 dan 21-16.
4. WD : Ma Jin/Wang Xiaoli (CHN) beat Du Jing/Yu Yang (CHN) 16-21, 21-19 dan 21-12
5. MD : Jung Jae Sung/Lee Yong Dae (KOR) beat Lars Paaske/Jonas Rassmusen (DEN) 13-21, 21-15, 21-8
Posted in Bulutangkis | Tagged: Badminton, BWF, Devin Lahardi/Lita Nurlita, Hasil pertandingan Bulutangkis, Hendra Setiawan, Lilyana Natsir, Maria Kristin Yulianti, Markis Kido, Markis Kido/Hendra Setiawan, Nova Widianto, Nova Widianto/Lilyana Natsir, Olahraga, PBSI, Simon Santoso, Sony Dwi Kuncoro, Taufik Hidayat, Vita Marissa | Leave a Comment »
Posted by jejakandromeda on November 13, 2009
Hongkong Super Series - Indonesia memastikan diri mendapatkan satu tempat di final setelah pasangan Nova Widianto/Lilyana Natsir menang atas He Hanbin/Yu Yang (CHN) dengan rubber set. Kepastian tiket final di peroleh Indonesia setelah lawan Nova/lilyana di Semifinal adalah pemain Indonesia pemenang antara Hendra A Gunawan/Vita Marissa dan Frans Kurniawan/Pia Zebadiah Bernadet yang saat berita ini di turunkan masih bertanding.
Di perempat final, Unggulan ketiga Nova/Lilyana melibas permainan He Hanbin/Yu Yang (CHN) yang juga dua pekan sebelumnya di kalahkan di semifinal Prancis Super Series. Meski di set pertama pertahanan China cukup alot, akan tetapi set kedua dan set ke tiga sepenuhnya menjadi milik Nova Lilyana. Nova/Lilyana melangkah ke semifinal dengan 19-21, 21-9 dan 21-9.
Sementara itu Indonesia juga meloloskan satu pasangan ganda putra ALvent Yulianto/Hendra A Gunawan yang mengandaskan impian Markis/Hendra dengan dua set langsung. Alvent/Hendra melangkah ke semifinal dengan skor 21-11 dan 21-18. Lawan Alvent/Hendra berikutnya adalah ganda kuat Korea Jung Jae Sung/Lee Yong Dae. Di perempat final Jung Jae Sung/Lee Yong Dae menjungkalkan permainan Anthony Clark/Nathan Robertson (ENG) dengan rubber set 17-21, 21-16 dan 21-16.
Di nomor tunggal putra, ‘rising star’ Dyonisius Hayom Rumbaka asal Club Djarum gagal ke semifinal setelah di kalahkan Bao Chun Lai (CHN) dengan 15-21 dan 15-21. Tunggal putra lainnya Simon Santoso masih bertanding dengan Peter Heog Gade (DEN).
Posted in Bulutangkis | Tagged: Alvent Yulianto, Alvent Yulianto/Hendra A GUnawan, Badminton, Bao Chun Lai, Bulutangkis, BWF, Dyonisius Hayom Rumbaka, Frans Kurnawan/Pia Zebadiah Bernadet, Hasil pertandingan Bulutangkis, Hendra Setiawan, Lilyana Natsir, M. Ahsan/Bona Septono, Markis Kido/Hendra Setiawan, Nova Widianto/Lilyana Natsir, Olahraga, PBSI, Pia Zebadiah, Simon Santoso, Sony Dwi Kuncoro, Vita Marissa | Leave a Comment »
Posted by jejakandromeda on November 12, 2009
Kejutan terjadi di partai ganda campuran antara pemain Indonesia dengan pemain Korea Selatan. Frans Kurniawan/Pia Zebadiah Bernadet berhasil menjungkalkan unggulan pertama asal Korea Selatan Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung dengan dua set langsung. Kemenangan ini menjadi suatu harapan baru bagi Indonesia untuk melapisi pemain ganda campuran Indonesia Nova Widianto/Lilyana Natsir yang sebentar lagi akan di cerai.
Permainan Frans/Pia sangat gemilang karena berhasil menekan permainan ganda kuat Korea tersebut, sehingga tidak kelihatan kalah kelas. Pia Zebadiah yang sebelumnya bermain di nomor tunggal akhirnya di pasangkan dengan Frans Kurniawan untuk bermain di nomor ganda campuran, dan hasilnya meski baru beberapa kali bermain cukup menggembirakan meski belum juara. Di Set pertama Frans/Pia berhasil menekan permainan ganda Korea dan menang dengan 21-19. Memasuki set kedua kedudukan Frans/Pia langsung melesat jauh meninggalkan Korea dan sempat unggul 14-5 sebelum akhirnya ganda Korea berhasil meraih angka demi angka sampai pada kedudukan 18-18. Keadaan ini tidak membuat Frans/Pia patah semangat justru memacu dirinya untuk bermain tenang. Akhirnya set kedua di meanangkan oleh Frans/Pia dengan kemenangan 21-19, sekaligus melangkah ke perempat final untuk bertemu dengan rekan senegaranya Hendra A Gunawan/Vita Marissa yang terlebih dulu lolos ke perempat final setelah mengandaskan Chen Hung Ling/Chou Chia Chi (TPE) dengan 21-18 dan 21-15.
Sementara itu ‘rising star’Dyonisius Hayom Rumbaka juga berhasil melangkah ke perempat final setelah mengalahkan Yu Hsin Hsieh (TPE) dengan kemenangan mudah 21-13 dan 21-9. Namun disayangkan sekali di perempat final Dyonisius sudah bertemu Bao Chun Lai(CHN) yang tentu saja diatas kertas baik tekhnik dan pengalaman Bao Chun Lai lebih unggul.
Sementara itu ganda campuran Nova Widianto/Lilyana Natsir dan ganda putra Indonesia saat berita ini diturunkan masih belum bertanding.
Posted in Bulutangkis | Tagged: Badminton, Bulutangkis, BWF, Frans Kurniawan, Hasil pertandingan Bulutangkis, Hongkong Super Series 2009, Lilyana Natsir, Markis Kido/Hendra Setiawan, Pia Zebadiah, Super Series | Leave a Comment »
Posted by jejakandromeda on November 12, 2009
Hari kedua turnamen Hongkong Super Series 2009 di warnai dengan mulai bergugurannya pemain-pemain Indonesia. Pemain-pemain Indonesia dibuat tidak berdaya dalam perebutan meraih babak 16 besar. Di nomor tunggal putra, Indonesia hanya menyisakan Taufik Hidayat dan Simon Santoso yang pada hari ini harus berjuang untuk meraih tiket perempat final. Taufik Hidayat melangkah ke babak kedua setelah mengalahkan Eric Pang (NED) dengan 21-19 dan 21-15, sementara itu Simon Santoso menang WO atas Lee Tsun Seng (MAS). Namun sayang sekali kedua pemain Indonesia ini harus bertemu di babak kedua untuk meraih tiket perempat final.
Sementara itu Sony Dwi Kuncoro harus gagal melangkah ke babak kedua setelah di taklukkan pemain non unggulan Tanongsaak Saensomboonsok (THA) dengan rubber set. Kelihatan sekali jika Sony Dwi Kuncoro keteteran menghadapi Tanongsak. Di set pertama Sony di buat tak berdaya dengan 13-21. Memasuki set kedua Sony juga harus beberapa kali ketinggalan angka dari Tanongsak, namun set kedua dapat dimenangkan Sony dengan skor tipis 21-19. Memasuki set ketiga, kedudukan kembali di pegang oleh Tanongsak, dan set ketiga menjadi kunci kekalahan Sony dengan 16-21. Kegagalan yang sama juga di raih oleh pemain Djarum Andre Kurniawan Tedjono yang harus takluk dari unggulan ke 7 Tien Minh Nguyen (VIE) dengan 16-21 dan 15-21. Namun kegagalan dua tunggal putra dapat terobati dengan keberhasilan Dyonisius Hayom Rumbaka yang berhasil menaklukkan unggulan ke 8 Bonsaak Ponsana (THA) dengan straight set 22-20 dan 21-19. Dyonisius adalah pemain yang merangkak dari babak kualifikasi, sehingga kemenangan ini pun menjadi lebih berarti.
Tunggal Putri
Satu-satunya tunggal putri yang lolos ke babak kedua adalah Maria Febe Kusumastuti (CJ) setelah menaklukkan Xing Aiying (SIN) dengan 14-21, 21-14 dan 21-19. Keberhasilan pemain asal Club Djarum tersebut tidak diikuti oleh pemain pelatnas. Maria Kristin Yulianti dan Adriyanti Firdasari langsung tersingkir di babak pertama. Sementara itu Fransisca Ratnasari yang merangkak dari pemain kualifikasi juga harus tersingkir dari tangan Zhou Mi (HKG).
Maria Kristin Yulianti peraih medali perunggu olimpiade Beijing 2008 gagal melangkah ke babak kedua setelah takluk dari Salakjit Ponsana (THA) dengan rubber set. Di set pertama Maria mampu menang dengan 21-16, akan tetapi memasuki set kedua Salakjit yang juga kerap kali menyulitkan pemain China berhasil merebutnya dengan kedudukan 18-21. Memasuki set ketiga perolehan angkanya cukup ketat, namun Maria kurang tepat menempatkan bola sehingga set ketiga ditutup dengan 21-23 untuk kemenangan Salakjit. Tunggal putri Indonesia Lainnnya, Adriyanti Firdasari dibuat tidak berdaya dengan 10-21 dan 13-21 atas Wang Xin (CHN), Sedangkan Fransisca harus mengakui keunggulan Zhou Mi (HKG) dengan 19-21 dan 18-21.
Di nomor ganda putra Indonesia meloloskan empat wakilnya di babak kedua, setelah M. Ahsan/Bona Septono dan Flandy/Chandra Wijaya gagal melangkah ke babak kedua. Ke empat pasang pemain Indonesia yang lolos ke babak ke dua adalah Markis Kido/Hendra Setiawan, Luluk Hadiyanto/Joko Riyadi, Alvent Yulianto/Hendra A Gunawan dan Yonathan Suryatama Dasuki/Rian Sukmawan.
Jadwal pertandingan hari ini akan dimulai pukul 12.00 waktu setempat.
Posted in Bulutangkis | Tagged: Adriyanti Firdasari, Alvent Yulianto, Badminton, Bona Septono, Bulutangkis, Devin Lahardi/Lita Nurlita, Flandy Limpele, Fransisca Ratnasari, Hasil pertandingan Bulutangkis, Hendra Setiawan, Hongkong Super Series, Lilyana Natsir, Maria Kristin Yulianti, Markis Kido/Hendra Setiawan, Nova Widianto, Nova Widianto/Lilyana Natsir, PBSI, Prancis Super Series 2009, Simon Santoso, Sony Dwi Kuncoro, Taufik Hidayat, Vita Marissa | Leave a Comment »